![]() |
Karja |
AmbaritaNews.com | Kabupaten Bekasi – Sikap Ketua RW 015 Desa Mangunjaya, Kecamatan Tambun Selatan, Karja, menuai sorotan setelah diduga mengabaikan pembangunan infrastruktur jalan di wilayahnya. Warga menilai respons Karja terhadap persoalan ini terkesan lamban dan tidak menunjukkan kepedulian sebagai pemimpin lingkungan.
Masalah ini mencuat saat wartawan mencoba mengonfirmasi perihal kondisi jalan di RT 005 yang disebut-sebut belum pernah tersentuh pembangunan. Namun, upaya konfirmasi melalui telepon pada Rabu (26/2/2025) pukul 10.34 WIB dan 10.55 WIB tidak mendapatkan respons. Karja baru memberikan jawaban melalui pesan singkat pada pukul 12.20 WIB dengan pernyataan bahwa "proposal pengajuan baru masuk ke dewan."
Sikap Karja yang dinilai pasif semakin memicu kekecewaan warga. Dalam percakapan lebih lanjut, wartawan kembali menanyakan lokasi jalan yang dimaksud, tetapi jawaban yang diberikan oleh Karja dianggap tidak memadai. Bahkan, hingga berita ini tayang, tidak ada klarifikasi lebih lanjut dari pihak RW.
Kritik terhadap Karja semakin tajam mengingat ia menerima tunjangan bulanan sebesar Rp1 juta, yang dikabarkan akan naik menjadi Rp2 juta berdasarkan janji politik Bupati Ade Kuswara Kunang. Warga menilai bahwa peningkatan tunjangan tersebut tidak sebanding dengan kinerjanya dalam membangun lingkungan.
Baca Berita Sebelum nya Terkait Ketua RW 015 Desa Mangunjaya:
Hina Posisi Wartawan "T*i", OTK Penjilat Ketua RW 015 Mangunjaya Tambun Selatan Dipolisikan
Tak Terima Diberitakan, Ketua RW 015 Karja Tantang Wartawan dengan Sewa Pengacara Paling Mahal
https://www.ambaritanews.com/2023/08/tak-terima-diberitakan-ketua-rw-015.html
Keamanan Didi Halangi Tugas Wartawan dan Ketua RW 015 Karja Tukang Bohong
https://www.mediajurnalinvestigasi.com/2023/08/keamanan-didi-halangi-tugas-wartawan.html
Diduga Hina Profesi Wartawan "T*I dan OTAK PENJILAT" Ketua Rw 015 Mangunjaya Tambun Selatan Dipolisikan
Selain isu infrastruktur, muncul pula dugaan bahwa tanah fasilitas sosial (fasos) dan fasilitas umum (fasum) di wilayah RW 015 digunakan untuk pemancingan ilegal. Keberadaan pemancingan yang beroperasi selama 24 jam ini dinilai tidak transparan dalam pengelolaannya, sehingga menimbulkan pertanyaan mengenai aliran pendapatan dari usaha tersebut.
Kontroversi ini semakin memperburuk citra Karja, yang sebelumnya juga pernah terlibat dalam perseteruan dengan wartawan. Sebelumnya, beberapa pemberitaan menyebutkan bahwa ia sempat menantang wartawan dengan menyewa pengacara mahal, serta adanya dugaan penghinaan terhadap profesi jurnalis.
Warga berharap pemerintah setempat segera turun tangan untuk menindaklanjuti persoalan ini. Mereka mendesak agar transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan lingkungan di RW 015 bisa lebih ditingkatkan. [Diori Parulian Ambarita]
(Bersambung…)